Langsung ke konten utama

Puisi Rakyat

IDENTITAS

NAMA GURU              :  TRI ESTI RIANTI, S.Pd.

MATA PELAJARAN  : BAHASA INDONESIA 

HARI/TANGGAL       : RABU/4 NOVEMBER 2026

FASE/KELAS.             : FASE D/ VIIA DAN VIIB

JUDUL MATERI         : PUISI RAKYAT

PERTEMUAN KE       : 6

CAPAIAN PEMBELAJARAN : 

Pada akhir Fase D, Peserta didik mampu mengekspresikan gagasan kreatif dan imajinatif secara indah dalam bentuk prosa fiksi. 

TUJUAN PEMBELAJARAN: 

Peserta didik dapat Menelaah struktur dan kebahasaan puisi rakyat, Mengungkapkan gagasan atau ide dalam bentuk larik, Menyusun larık-larık menjadi sebuah puısı rakyat sesuai struktur dan kebahasaannya, dan Mempresentasikan hasıl menulis puisi rakyat (pantun, gurindam, dan syair)

1. Prinsip Mindful (Kesadaran & Kritis)

  • Peserta didik dapat menyadari dan meresapi pesan moral serta perasaan yang disampaikan dalam teks tersebut.

2. Prinsip Meaningful (Bermakna & Relevan)

  • Peserta didik dapat mengungkapkan gagasan, nasihat, atau curahan hati ke dalam bentuk larik-larik yang jujur dan dekat dengan kehidupan mereka.
3. Prinsip Joyful (Menyenangkan & Estetik)
  • Peserta didik dapat mempresentasikan hasil karya puisi rakyatnya dengan penuh percaya diri dan rasa antusias bersama teman-temannya.

ALUR TUJUAN PEMBELAJARAN : 

  • Tahap 1: Fokus pada pengelolaan emosi, teknik olah vokal, dan pernapasan (STOP technique) untuk mengatasi demam panggung secara sadar.
  • Tahap 2: Latihan terbimbing bersama rekan sejawat untuk memberikan umpan balik yang membangun dan bermakna terkait intonasi serta ekspresi.
  • Tahap 3: Puncak performansi melalui wadah "Festival Puisi Rakyat" atau "Pasar Pantun" yang interaktif, seru, dan penuh apresiasi bersama teman-teman sekelas.

MATERI PEMBELAJARAN:

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

Sebelum kita memasuki materi pembelajaran, kita harus mengingat kebesaran Allah Swt. yang telah menciptakan kita semua.

  • Al-Khaliq (Maha Pencipta):"Gunakan suara, mimik wajah, dan intonasi terbaikmu saat latihan. Ingatlah bahwa Al-Khaliq telah menciptakan alat ucap dan ekspresi kita dengan sangat sempurna. Menampilkannya dengan baik adalah cara kita menghormati ciptaan-Nya."
  • Al-Malik (Maha Merajai): "Saat kita menenangkan hati dengan STOP technique, kita sedang belajar menjadi 'raja' atas emosi kita sendiri. Kita sadar bahwa ketakutan datangnya dari pikiran, dan kita memohon kekuatan kepada Al-Malik, Pemilik hati manusia, agar diberi ketenangan saat maju ke depan kelas."
  • Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki): Ketika kita tampil dengan antusias dan teman-teman bertepuk tangan memberikan pujian, itulah rezeki kegembiraan dari Al-Razzaq. Jangan pelit memuji karya orang lain, karena dengan menjadi perantara kebahagiaan bagi orang lain, kita sedang menjemput keberkahan rezeki."



https://youtu.be/O4POJf-sM1s?si=2JrYVfVQBM3iVRk4

(Video Pembelajaran ini menjelaskan materi Pembelajaran di pertemuan kali ini yaitu tentang Struktur dan Unsur Kaidah Kebahasaan Puisi Rakyat, untuk Uraian silahkan simak video diatas!)

Struktur Puisi Rakyat

Tiap jenis puisi rakyat  struktur yang berbeda-beda. Struktur itu berkaitan dengan ciri-cirinya. Inilah struktur puisi rakyat dari tiap jenis yang sudah kita bahas.

1. Struktur Pantun

  • Satu bait pantun memiliki 4 baris.
  • Setiap baris dalam pantun terdiri dari 8—12 suku kata.
  • Baris 1 dan 2 merupakan sampiran yang menjadi pembuka pantun dengan rima a-b. Sampiran tidak harus berkesinambungan dengan baris berikutnya.
  • Baris 3 dan 4 merupakan isi pantun yang berima a-b. Isi pada baris 3 dan 4 berbentuk kalimat majemuk.
  • Baris 1-2-3-4 pada tiap bait pantun membentuk rima a-b-a-b.
  • Menggunakan kalimat perintah.

 

2. Struktur Gurindam

  • Satu bait gurindam memiliki 2 baris yang saling berhubungan.
  • Setiap baris dalam gurindam terdiri dari 10—14 kata.
  • Baris 1 merupakan syarat atau sebab dari baris 2.
  • Baris 2 merupakan jawaban atau akibat dari baris 1.
  • Baris 1 dan 2 dalam gurindam memiliki rima a-a.
  • Menggunakan kalimat yang menyatakan hubungan syarat.
  • Memiliki bunyi awal dan akhir yang sama.

 

struktur puisi rakyat

 

3. Struktur Syair

  • Satu bait syair memiliki 4 baris yang saling berkaitan.
  • Setiap baris dalam syair terdiri dari 8—14 suku kata.
  • Baris 1-2-3-4 memiliki rima a-a-a-a.
  • Menggunakan kalimat yang menyatakan hubungan sebab akibat.
  • Pilihan kata yang digunakan bersifat simbolik.

 

4. Struktur Mantra

  • Berbentuk puisi yang isinya menggambarkan kepercayaan suatu masyarakat.
  • Berisi satu kesatuan maksud yang diucapkan secara berurutan.
  • Menggunakan kalimat rayuan dan perintah.
  • Memperhatikan keindahan bunyi yang dihasilkan ketika diucapkan.

 

Kaidah Kebahasaan Puisi Rakyat

Selain struktur, sebuah tulisan tentu memiliki kaidah kebahasaan yang perlu diperhatikan. Dengan adanya kaidah kebahasaan, kita dapat membuat tulisan yang baik. Lalu, apa saja kaidah kebahasaan puisi rakyat? Berikut ini adalah kaidah kebahasaan puisi rakyat yang perlu kamu perhatikan.

 

1. Menggunakan kalimat pernyataan

Kalimat pernyataan adalah kalimat yang menyatakan atau memberitakan sesuatu. Ciri-ciri kalimat pernyataan antara lain berintonasi datar dan diakhiri tanda titik (.).

 

2. Menggunakan kalimat perintah

Kalimat perintah adalah kalimat yang bertujuan untuk memerintah, menyuruh, mengajak, dan melarang. Ciri-ciri kalimat perintah yaitu berintonasi naik, menggunakan partikel –lah, menggunakan imbuhan –kan, diawali kata ayo, mari, jangan, atau dilarang, serta diakhiri tanda seru (!).

 

3. Menggunakan kalimat saran

Kalimat saran adalah kalimat yang bertujuan memberi usulan atau anjuran kepada orang lain. Ciri-ciri kalimat saran adalah menggunakan kata yang bersifat anjuran, seperti sebaiknya, seharusnya, hendaknya, dan sebagainya.

 

4. Menggunakan konjungsi

Konjungsi adalah kata atau ungkapan yang menghubungkan kata, frasa, klausa, ataupun kalimat. Lalu, apa saja contoh konjungsi yang sering digunakan dalam puisi rakyat?

  • Konjungsi yang menyatakan sebab, misalnya sebab dan karena.
  • Konjungsi yang menyatakan akibat, misalnya maka, sehingga, dan akibatnya.
  • Konjungsi yang menyatakan syarat, misalnya jika, jikalau, bila, apabila, kalua, dan asalkan.
  • Konjungsi yang menyatakan tujuan, misalnya agar, supaya, guna, dan untuk.

 

5. Menggunakan kalimat majemuk

Kalimat majemuk adalah kalimat yang terbentuk dari dua klausa atau lebih yang dipadukan. Terus gimana cara memadukan klausa-klausa itu? Caranya, kamu dapat menggunakan konjungsi-konjungsi di atas. Gampang, kan?

 

Contoh Puisi Rakyat

1. Contoh Pantun

Berlomba-lomba membuka ikatan tali
Tidak akan sesulit membuka hati
Kawanku, hidup ini cuma sekali
Mari, kita belajar tanpa henti!

 

2. Contoh Gurindam

Jika surga-nya yang kau cari
Laku dan lisan buruk harus dihindari


3. Contoh Syair

Wahai, pengembara di tanah surga
Sembahlah yang memberi jiwa dan raga
Dialah yang memberi kefanaan tenaga
Dia pula yang menyaksikan baik buruk kita berlaga

 

4. Contoh Mantra

Pulanglah engkau kepada rimba yang besar
Pulanglah engkau kepada gunung guntung
Pulanglah engkau kepada sungai yang tiada berhulu
Pulanglah engkau kepada sungai yang tiada berorang
Pulanglah engkau kepada mata air yang kering
Jikalau engkau tiada mau pulang, matilah engkau

 

ASSESMEN

Soal 1 (Menelaah Struktur Pantun)
Bacalah pantun rumpang/berikut ini dengan saksama!
Pergi ke pasar membeli manggis,
Jangan disimpan di dalam peti.
... (a)
... (b)
Pertanyaan:
  1. Lengkapilah bagian isi pantun (larik ke-3 dan larik ke-4) agar menjadi pantun nasihat yang bertema pentingnya menjaga kesehatan!
  2. Telaahlah struktur pantun di atas berdasarkan:
    • Jumlah bait dan jumlah baris per bait.
    • Pembagian sampiran dan isi.
    • Pola rima (sajak).

Soal 2 (Menelaah Struktur dan Pesan Gurindam)
Perhatikan gurindam berikut!
Barang siapa mengenal diri,
Maka tialah sempat bersifat curi.
Pertanyaan:
  1. Telaahlah struktur gurindam tersebut dari segi jumlah baris per bait dan pola rimanya!
  2. Jelaskan hubungan sebab-akibat (hubungan kondisional) antara larik pertama dan larik kedua pada gurindam tersebut!

Soal 3 (Menelaah Kaidah Kebahasaan Puisi Rakyat)
Bacalah penggalan syair di bawah ini!
Wahai ananda dengarkan tuan,
Jaga hatimu jangan perdayaan,
Ibu dan bapa simpulkan niat,
Hidup berbakti tiada sesal di kemudian.
Pertanyaan:

  1. Analisis dan sebutkan jenis-jenis kalimat yang dominan digunakan dalam kaidah kebahasaan puisi rakyat di atas (misalnya: kalimat perintah, ajakan, saran, atau pernyataan)!
  2. Temukan dan jelaskan makna kata kiasan atau pilihan kata (diksi) yang mengandung nilai nasihat dalam syair tersebut! 

KESIMPULAN MATERI :

  • Syair: Terdiri dari 4 baris per bait, di mana semua baris adalah isi yang saling menyambung membentuk cerita. Memiliki pola rima akhir a-a-a-a.
Kesimpulan Kaidah Kebahasaan Puisi Rakyat
Puisi rakyat memiliki karakteristik kebahasaan yang khas untuk menyampaikan pesan moral secara efektif:
  • Penggunaan Kalimat Perintah & Larangan: Sering memakai kata kerja imperatif seperti jangan, hindari, ambillah, rajinlah untuk mengarahkan perilaku pembaca.
  • Penggunaan Kalimat Saran & Ajakan: Menggunakan kata seperti sebaiknya, seyogianya, marilah, ayo untuk memberikan nasihat secara halus.
  • Kalimat Pernyataan (Kondisional): Sering ditemukan pada gurindam dengan struktur "Barang siapa... maka..." atau "Jika... maka...".
  • Pilihan Kata (Diksi) Bernilai Moral:Kata-kata yang dipilih cenderung bermakna kiasan, luhur, dan sarat akan nilai agama, budi pekerti, serta adat istiadat.
  • Rima dan Kononansi: Penataan bunyi akhir (rima) yang teratur berfungsi memberikan efek estetika (keindahan) dan musikalisasi saat puisi tersebut dilantunkan atau dibaca.


Komentar

  1. Faris Akmal H.
    Kelas 7A
    Jawaban asesmen :

    Soal 1
    1. Isi Pantun Nasihat (Tema: Kesehatan)

    Melihat anak kecil menangis, (a)
    Mari hibur sejujurkan hati. (b)
    Alternatif jika ingin lebih fokus ke tema kesehatan tubuh:
    Janganlah sering menangis, (a)
    Jagalah kesehatan setiap hari. (b)
    Mari kita gunakan opsi alternatif yang paling sesuai dengan pola rima akhir (-is / -i):
    Pergi ke pasar membeli manggis, (sampiran)
    Jangan disimpan di dalam peti. (sampiran)
    Olahraga teratur agar tidak betis, -> Kurang tepat tata bahasanya.
    Mari buat yang paling natural:
    Mari kurangi makanan manis, (larik 3)
    Agar penyakit tidak mendekati. (larik 4)
    Pantun Lengkap:
    Pergi ke pasar membeli manggis,
    Jangan disimpan di dalam peti.
    Mari kurangi makanan manis,
    Agar penyakit tidak mendekati.

    2. Telaah Struktur Pantun

    • Jumlah Bait dan Baris: Pantun di atas terdiri dari 1 bait, di mana bait tersebut memiliki 4 baris (larik).
    • Pembagian Sampiran dan Isi:
    • Sampiran berada pada baris ke-1 (Pergi ke pasar membeli manggis) dan baris ke-2 (Jangan disimpan di dalam peti). Sampiran berfungsi sebagai pengantar bunyi dan tidak berkaitan langsung dengan maksud pantun.
    • Isi berada pada baris ke-3 (Mari kurangi makanan manis) dan baris ke-4 (Agar penyakit tidak mendekati). Isi merupakan inti pesan atau nasihat yang ingin disampaikan.
    • Pola Rima (Sajak): Pantun ini memiliki pola rima akhir a-b-a-b.
    • Baris ke-1 berakhiran bunyi -is (manggis) bersajak dengan baris ke-3 yang berakhiran bunyi -is (manis).
    • Baris ke-2 berakhiran bunyi -ti (peti) bersajak dengan baris ke-4 yang berakhiran bunyi -ti (mendekati)

    Soal 2
    1. Telaah Struktur Gurindam
    • Jumlah baris per bait: Gurindam tersebut terdiri atas satu bait yang berisi dua baris (larik).
    • Pola rima: Gurindam tersebut menggunakan pola rima akhir a-a (rima sama/berpasangan), yaitu ditandai dengan keselarasan bunyi vokal/konsonan akhir pada kata "diri" dan "curi".

    2. Hubungan Sebab-Akibat (Kondisional)
    • Hubungan kondisional (sebab): Larik pertama (Barang siapa mengenal diri) bertindak sebagai syarat atau sebab. Larik ini bermakna ketika seseorang telah memahami hakikat dirinya, mengenali kekurangan dan kelebihannya, serta sadar akan keberadaan dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
    • Hubungan akibat: Larik kedua (Maka tialah sempat bersifat curi) bertindak sebagai konsekuensi atau akibat. Larik ini bermakna orang yang sudah mengenali dirinya tidak akan memiliki waktu, keinginan, atau kesempatan untuk melakukan perbuatan tercela seperti mencuri (mengambil hak orang lain).
    • Kesimpulan: Hubungan kedua larik ini menunjukkan bahwa pengenalan diri yang baik (sebab) secara otomatis akan membentengi seseorang dari perbuatan buruk atau kriminal (akibat).

    BalasHapus
  2. Soal 3
    1. Analisis Jenis Kalimat yang Dominan

    Jenis kalimat yang dominan digunakan dalam syair tersebut adalah kalimat perintah dan kalimat saran/ajakan.
    Berikut adalah rincian analisis per larik (baris):
    • Wahai ananda dengarkan tuan (Kalimat Seru & Perintah): Kata "wahai" merupakan kata seru untuk menarik perhatian, sedangkan kata "dengarkan" adalah bentuk kalimat perintah halus yang meminta pembaca/pendengar untuk menyimak.
    • Jaga hatimu jangan perdayaan (Kalimat Larangan/Saran): Kata "jaga" merupakan kalimat perintah/saran, sedangkan kata "jangan" secara spesifik menunjukkan kalimat larangan agar tidak goyah atau terpedaya.
    • Ibu dan bapa simpulkan niat (Kalimat Saran/Perintah): Kata "simpulkan niat" berfungsi sebagai kalimat saran atau perintah bagi orang tua untuk memantapkan tujuan dan niat baik dalam mendidik anak.
    • Hidup berbakti tiada sesal di kemudian (Kalimat Pernyataan/Deklaratif): Baris ini berupa pernyataan atau kesimpulan tentang konsekuensi positif jika seseorang hidup berbakti.

    2. Makna Kata Kiasan atau Diksi (Pilihan Kata) Bernilai Nasihat

    • Jaga hatimu
    • Makna: Memelihara keimanan, kesucian diri, pikiran, dan perasaan dari niat buruk atau pengaruh negatif.
    • Nilai Nasihat: Manusia harus selalu waspada dan mengontrol hatinya agar tidak mudah terpengaruh oleh bujuk rayu atau hal-hal yang menyesatkan.
    • Jangan perdayaan (diperdaya/terpedaya)
    • Makna: Jangan sampai tertipu, dibohongi, atau disesatkan oleh gemerlap dunia atau hawa nafsu.
    • Nilai Nasihat: Pentingnya memiliki pendirian yang kuat dan kecerdasan agar tidak mudah dimanfaatkan atau dijatuhkan oleh orang lain.
    • Simpulkan niat
    • Makna: Memantapkan, menguatkan, atau Menyatukan tekad dan tujuan.
    • Nilai Nasihat: Nasihat bagi orang tua (ibu dan bapa) agar memiliki satu visi dan tekad yang bulat dan tulus dalam membesarkan serta mengarahkan anak ke jalan yang benar.
    • Hidup berbakti
    • Makna: Mengisi kehidupan dengan berbuat baik, taat, dan hormat—baik kepada Tuhan, orang tua, maupun sesama.
    • Nilai Nasihat: Mengajarkan bahwa kemuliaan hidup di dunia dicapai lewat pengabdian dan kebajikan, bukan lewat keegoisan.

    BalasHapus
  3. nama:afiqah najla azzahra
    kelas:7b
    Jawaban asesmen :

    Soal 1
    1. Isi Pantun Nasihat (Tema: Kesehatan)

    Melihat anak kecil menangis, (a)
    Mari hibur sejujurkan hati. (b)
    Alternatif jika ingin lebih fokus ke tema kesehatan tubuh:
    Janganlah sering menangis, (a)
    Jagalah kesehatan setiap hari. (b)
    Mari kita gunakan opsi alternatif yang paling sesuai dengan pola rima akhir (-is / -i):
    Pergi ke pasar membeli manggis, (sampiran)
    Jangan disimpan di dalam peti. (sampiran)
    Olahraga teratur agar tidak betis, -> Kurang tepat tata bahasanya.
    Mari buat yang paling natural:
    Mari kurangi makanan manis, (larik 3)
    Agar penyakit tidak mendekati. (larik 4)
    Pantun Lengkap:
    Pergi ke pasar membeli manggis,
    Jangan disimpan di dalam peti.
    Mari kurangi makanan manis,
    Agar penyakit tidak mendekati.

    2. Telaah Struktur Pantun

    • Jumlah Bait dan Baris: Pantun di atas terdiri dari 1 bait, di mana bait tersebut memiliki 4 baris (larik).
    • Pembagian Sampiran dan Isi:
    • Sampiran berada pada baris ke-1 (Pergi ke pasar membeli manggis) dan baris ke-2 (Jangan disimpan di dalam peti). Sampiran berfungsi sebagai pengantar bunyi dan tidak berkaitan langsung dengan maksud pantun.
    • Isi berada pada baris ke-3 (Mari kurangi makanan manis) dan baris ke-4 (Agar penyakit tidak mendekati). Isi merupakan inti pesan atau nasihat yang ingin disampaikan.
    • Pola Rima (Sajak): Pantun ini memiliki pola rima akhir a-b-a-b.
    • Baris ke-1 berakhiran bunyi -is (manggis) bersajak dengan baris ke-3 yang berakhiran bunyi -is (manis).
    • Baris ke-2 berakhiran bunyi -ti (peti) bersajak dengan baris ke-4 yang berakhiran bunyi -ti (mendekati)

    Soal 2
    1. Telaah Struktur Gurindam
    • Jumlah baris per bait: Gurindam tersebut terdiri atas satu bait yang berisi dua baris (larik).
    • Pola rima: Gurindam tersebut menggunakan pola rima akhir a-a (rima sama/berpasangan), yaitu ditandai dengan keselarasan bunyi vokal/konsonan akhir pada kata "diri" dan "curi".

    2. Hubungan Sebab-Akibat (Kondisional)
    • Hubungan kondisional (sebab): Larik pertama (Barang siapa mengenal diri) bertindak sebagai syarat atau sebab. Larik ini bermakna ketika seseorang telah memahami hakikat dirinya, mengenali kekurangan dan kelebihannya, serta sadar akan keberadaan dirinya sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
    • Hubungan akibat: Larik kedua (Maka tialah sempat bersifat curi) bertindak sebagai konsekuensi atau akibat. Larik ini bermakna orang yang sudah mengenali dirinya tidak akan memiliki waktu, keinginan, atau kesempatan untuk melakukan perbuatan tercela seperti mencuri (mengambil hak orang lain).
    • Kesimpulan: Hubungan kedua larik ini menunjukkan bahwa pengenalan diri yang baik (sebab) secara otomatis akan membentengi seseorang dari perbuatan buruk atau kriminal (akibat).
    Soal 3
    1. Analisis Jenis Kalimat yang Dominan

    Jenis kalimat yang dominan digunakan dalam syair tersebut adalah kalimat perintah dan kalimat saran/ajakan.
    Berikut adalah rincian analisis per larik (baris):
    • Wahai ananda dengarkan tuan (Kalimat Seru & Perintah): Kata "wahai" merupakan kata seru untuk menarik perhatian, sedangkan kata "dengarkan" adalah bentuk kalimat perintah halus yang meminta pembaca/pendengar untuk menyimak.
    • Jaga hatimu jangan perdayaan (Kalimat Larangan/Saran): Kata "jaga" merupakan kalimat perintah/saran, sedangkan kata "jangan" secara spesifik menunjukkan kalimat larangan agar tidak goyah atau terpedaya.
    Soal 3
    1. Analisis Jenis Kalimat yang Dominan

    Jenis kalimat yang dominan digunakan dalam syair tersebut adalah kalimat perintah dan kalimat saran/ajakan.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisi-kisi STS Ganjil Kelas VII Tahun 2026

TEKS PIDATO PERSUASIF