Kebahasaan Teks Cerita Fantasi
IDENTITAS
NAMA GURU : TRI ESTI RIANTI, S.Pd.
MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA
HARI/TANGGAL : SELASA/22 SEPTEMBER 2026
FASE/KELAS. : FASE D/ VIID
JUDUL MATERI : UNSUR KEBAHASAAN TEKS CERITA FANTASI
PERTEMUAN KE : 7
CAPAIAN PEMBELAJARAN :
Pada akhir Fase D, Peserta didik mampu mengekspresikan gagasan kreatif dan imajinatif secara indah dalam bentuk prosa fiksi.
TUJUAN PEMBELAJARAN:
Peserta didik dapat mengidentifikasi, menganalisis, dan menggunakan kaidah kebahasaan yang khas dalam teks cerita fantasi secara tepat.
1. Prinsip Mindful (Kesadaran & Kritis)
- Guru membacakan kutipan cerita teks fantasi yang kaya akan diksi pancaindra dengan perlahan. Peserta didik menutup mata dan fokus menyadari detail kata demi kata—merasakan "hawa dingin", mendengar "gemercik tongkat sihir", atau melihat "cahaya berpendar".
2. Prinsip Meaningful (Bermakna & Relevan)
- Peserta didik menganalisis struktur bahasa dengan konsep "Show, Don't Tell" (Tunjukkan, Jangan Sekadar Katakan). Mereka ditantang untuk menelaah mengapa kalimat "Naga itu sangat menyeramkan" terasa hambar dan kurang bermakna bagi pembaca. Mereka kemudian diajak mengubahnya menggunakan kaidah kebahasaan yang khas (seperti majas dan kata seru).
3. Prinsip Joyful (Menyenangkan & Estetik)- Peserta didik dibagi ke dalam kelompok dan diberikan kartu-kartu kata misterius berisi konjungsi urutan waktu, kata ganti unik, dan kosakata emotif. Mereka harus berkolaborasi merangkai kartu-kartu tersebut menjadi satu paragraf cerita fantasi yang utuh dan logis dalam waktu terbatas. Suasana kompetisi yang seru, penuh tawa, dan membebaskan imajinasi ini membuat
- Peserta didik dibagi ke dalam kelompok dan diberikan kartu-kartu kata misterius berisi konjungsi urutan waktu, kata ganti unik, dan kosakata emotif. Mereka harus berkolaborasi merangkai kartu-kartu tersebut menjadi satu paragraf cerita fantasi yang utuh dan logis dalam waktu terbatas. Suasana kompetisi yang seru, penuh tawa, dan membebaskan imajinasi ini membuat
MATERI PEMBELAJARAN:
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Sebelum kita memasuki materi pembelajaran, kita harus mengingat kebesaran Allah Swt. yang telah menciptakan kita semua.
1. Al-Khaliq (Yang Maha Pencipta) vs. Imajinasi Manusia
Peserta didik
Wa bahwa kemampuan manusia berimajinasi dan merangkai kata adalah setetes karunia kecerdasan dari sang Al-Khaliq. Manusia hanya bisa "menciptakan" cerita rekaan, sementara Allah adalah Pencipta sejati yang menciptakan realitas.
2. Al-Malik (Yang Maha Merajai/Penguasa) dalam Konflik Cerita
Peserta didik memahami bahwa sekuat apa pun konflik yang sengaja dibangun penulis, jalannya cerita tetap tunduk pada hukum sebab-akibat yang logis. Hal ini merefleksikan keteraturan alam semesta di bawah kendali Sang Penguasa Tertinggi.
3. Ar-Razzaq (Yang Maha Pemberi Rezeki) dalam Ide dan Inspirasi
Kemampuan untuk mengidentifikasi keunikan bahasa melatih rasa syukur atas kekayaan kosakata yang dimiliki manusia. Setiap kata, metafora, dan gaya bahasa yang ditemukan oleh peserta didik dalam teks adalah "rezeki pengetahuan dan inspirasi" yang bersumber dari kemurahan Allah.
Contoh Teks Cerita Fantasi
Supaya kamu lebih paham dengan teks cerita fantasi, coba perhatikan contoh di bawah ini, ya!
Timun Mas
Alkisah, ada seorang janda yang tidak mempunyai anak bernama Mbok Srini. Saat pergi ke hutan, ia didatangi raksasa yang memberinya biji timun. Raksasa tersebut mengatakan kalau ia akan mempunyai anak lewat biji timun tersebut.
Mbok Srini pulang dan menanam biji timun itu. Setelah beberapa waktu, tanaman timunnya hanya berbuah satu, warnanya emas. Ia membelah buah tersebut dan kaget karena isinya bayi perempuan. Anak itu diberi nama Timun Mas.
Singkat cerita, Timun Mas sudah dewasa. Suatu malam, Mbok Srini bermimpi didatangi raksasa. Raksasa tersebut akan menjemput Timun Mas seminggu lagi. Mbok Srini takut, lalu menemui petapa sakti. Petapa itu memberikan empat bungkusan kecil, berisi biji timun, jarum, garam, dan terasi.
Pada hari yang ditentukan, Mbok Srini meminta Timun Mas pergi. Raksasa pun mengejarnya. Timun Mas membuka bungkusan pertama, seketika sekelilingnya menjadi ladang timun dan menghambat sang Raksasa. Begitu akan tertangkap lagi, Timun Mas membuka bungkusan kedua. Dalam sekejap, sekelilingnya menjadi rerimbunan pohon bambu yang runcing. Raksasa terus mengejar meski terluka. Timun Mas membuka bungkusan ketiga. Daerah sekitarnya menjadi lautan luas. Namun, raksasa itu bisa melewatinya. Dengan ketakutan, Timun Mas melempar bungkusan terakhir. Sekelilingnya berubah menjadi lautan lumpur yang mendidih. Raksasa pun tercebur dan tewas.
Selamatlah Timun Mas. Ia menemui ibunya dan mereka hidup bahagia.
Sumber cerita: dongengceritarakyat.com
- Penggunaan Kata Ganti dan Nama Orang: Menggunakan kata ganti seperti aku, mereka, dia, -nya, atau nama tokoh langsung (seperti Raka atau Harry) sebagai sudut pandang penceritaan.
- Penggunaan Kata Pancaindra untuk Deskripsi Latar: Memakai kata-kata yang membuat pembaca seolah bisa melihat, mendengar, atau merasakan latar tempat, waktu, dan suasana. Contoh: "Bau embun pagi menyeruak di tengah hutan yang sunyi."
- Penggunaan Pilihan Kata Kias dan Makna Khusus: Menggunakan kata kiasan (metafora) atau pilihan kata yang unik dan ekspresif untuk memperkuat kesan fantasi.
- Penggunaan Kata Sambung Penanda Urutan Waktu: Memakai konjungsi kronologis untuk menghubungkan antar-kejadian. Contoh: kemudian, setelah itu, sementara itu, lalu, dan sebelumnya.
- Penggunaan Kata/Ungkapan Keterkejutan: Memakai ungkapan yang berfungsi menggerakkan alur cerita atau memunculkan masalah (konflik) secara tiba-tiba. Contoh: tiba-tiba, tanpa diduga, seketika, atau mendadak.
- Penggunaan Dialog atau Kalimat Langsung: Memuat percakapan antar-tokoh yang ditandai dengan tanda petik ganda (
"...") untuk menghidupkan cerita.
Konjungsi Temporal: Kata hubung yang menyatakan urutan waktu atau kejadian kronologis (contoh: lalu, kemudian, setelah itu).
Kata Imperatif: Kata kerja yang bersifat memerintah, memberi komando, atau instruksi (contoh: pastikan, potonglah, ambillah).
Verba Material: Kata kerja yang mengacu pada tindakan fisik yang bisa dilihat (contoh: mengiris, memegang, memasak).
Verba Tingkah Laku: Kata kerja yang mengacu pada sikap atau respons batin terhadap suatu tindakan (contoh: menunggu, memahami, menyukai).
Partisipan Manusia: Kehadiran subjek atau partisipan manusia secara umum maupun khusus untuk ikut serta dalam teks.
Bilangan Penanda: Angka atau kata bilangan yang menunjukkan urutan langkah atau jumlah (contoh: pertama, kedua, tiga sendok).
Kalimat Interogatif dan Deklaratif: Kalimat tanya (interogatif) untuk meminta informasi dan kalimat pernyataan (deklaratif) untuk memberikan berita atau informasi.
ASSESMEN
- Penggunaan Kata Ganti (Pronomen)
Bacalah kutipan kalimat berikut: "Tiba-tiba, Arka mendengar suara gemuruh dari balik pohon tua itu. Ia segera menghunus pedang peraknya untuk bersiap menghadapi makhluk bayangan."
Pertanyaan: Sebutkan kata ganti yang digunakan pada kutipan tersebut dan jelaskan fungsinya dalam penceritaan! - Penggambaran Latar (Pancaindra)
Dalam teks cerita fantasi, pendeskripsian latar sering kali melibatkan pancaindra agar pembaca dapat merasakan suasana secara nyata.
Pertanyaan: Buatlah sebuah paragraf pendek (2–3 kalimat) yang menggambarkan latar tempat di sebuah istana gaib dengan menggunakan kata-kata yang melibatkan indra penglihatan dan pendengaran! - Penggunaan Kata Sambung Penanda Urutan Waktu
Kata sambung penanda urutan waktu sangat penting untuk menunjukkan pergantian atau kelanjutan peristiwa dalam cerita fantasi.
Pertanyaan: Tuliskan tiga contoh kata sambung penanda urutan waktu, kemudian buatlah dua kalimat berurutan yang menggunakan salah satu kata sambung tersebut! - Penggunaan Makna Kias dan Makna Khusus
Penulis cerita fantasi sering menggunakan pilihan kata (diksi) berupa makna kias atau makna khusus untuk memperindah cerita.
Pertanyaan: Jelaskan perbedaan antara makna kias dan makna khusus dalam kaidah kebahasaan, serta berikan masing-masing satu contoh kalimat yang mengandung unsur tersebut dalam cerita fantasi! - Analisis Kebahasaan Kalimat Langsung
Dalam dialog antartokoh pada cerita fantasi, sering ditemukan kalimat langsung yang menggunakan tanda petik dua ("...").
Pertanyaan: Ubahlah kalimat tak langsung berikut menjadi bentuk kalimat langsung yang sesuai dengan gaya bahasa cerita fantasi: Nandini berteriak kepada Elang agar segera melompat ke jurang waktu sebelum portal itu tertutup.
Kaidah kebahasaan teks cerita fantasi umumnya mencakup penggunaan kata ganti, kata pancaindra untuk latar, pilihan kata kias, hingga kalimat langsung.
Komentar
Posting Komentar